Akhirnya drama sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen telah ditetapkan dengan diputuskannya vonis 18 tahun penjara bagi Antasari Ashar, 15 tahun bagi Sigit Wibisono, dan 12 tahun bagi Wiliardi Wizard. Lega dan haru nampak dari raut wajah Antasari setelah diputuskan, karena ia selamat dari tuntutan JPU yakni hukuman mati. Hakim tidak sependapat dengan pandangan kuasa hukum dan tidak ada alasan menghapus dakwaan sehingga terdakwa harus dijatuhi hukuman pidana.

Menurut majelis hakim, semua unsur dalam Pasal 55 Ayat 1 kesatu jo Pasal 55 Ayat 1 kedua jo Pasal 340 KUHP, yaitu unsur barang siapa melakukan turut serta menganjurkan dengan sengaja, dan turut berencana terlebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, terpenuhi.

“Tidak Adil!! Ternyata hukum yang adil tidak berlaku di Indonesia..!” begitu kata ibu dari Nasrudin setelah menonton sidang putusan hakim terhadap Antasari tersebut. Menurut ibunya, hukuman mati adalah hukuman yang paling adil menurutnya. Entah benar entah tidak, bukan masalah adil atau tidak adilnya… tetapi kecurigaan terhadap adanya makelar kasus yang harus kita berantas di dalam penegakan hukum di Indonesia. Hmm… di kasus Antasari kira2 ada proses makelarnya gak ya? Yang jelas, keadilan hanya dapat ditegakkan bila kita masyarakat sadar akan hukum termasuk para penegak hukumnya.

Saya bingung mau dukung yang mana, tapi yang jelas vonis 18 tahun sudah cukup adil dimata hakim. Yah, dibalik itu saya juga masih curiga adanya unsur penjebakan terhadap figur Antasari… maklum beliau notabene seorang ketua KPK yang paling anyar memberantas korupsi. Mungkin para pejabat lain takut kalo Antasari akan berbicara banyak mengungkap kasus2 korupsinya… who knows?

Mencari kebenaran sangat susah…