Disaat sekarang kebebasan rakyat dalam pers dan berekspresi sudah benar2 leluasa dan nyaman, kalo dulu zaman orde baru susah sekali kita menuangkan ekspresi dan kritikan terhadap pemerintah.  Jadi kalo dibilang, pemerintahan saat ini jauh lebih fleksibel dan membebaskan rakyatnya.  Ya artinya kita bisa menuangkan kritikan atau bentuk apapun itu terhadap pemerintah tanpa takut dicekal, diculik, atau masuk penjara.

Tapi terkadang kebebasan ini justru membuat rakyat menjadi melunjak, coba lihat demo2 yang belakangan ini terjadi… sungguh tidak mencerminkan jiwa nasional, tidak malu kita dilihat negara lain yang menertawakan negara kita terpecah belah?  Kita menginjak2 bangsa kita sendiri, foto presiden yang biasanya menjadi simbol bangsa kita dan dipajang dikanan kiri kelas atau ruang rapat kita.. kini mudah sekali dibakar, dicoret2, di tempel di pantat kiri dan kanan kerbau… bukankah itu menghina bangsa sendiri.

Demonstrasi boleh tapi jangan anarkis, tindakan membakar simbol negara itu adalah tindakan yang tidak berpendidikan, apakah kita diajarkan seperti itu.  Apakah menjamin bila anda yang tukang bakar saat demo itu nanti bakal setuju kalo foto anda dibakar juga? Saya tidak bermaksud membela manapun, saya hanya mencari kebenaran… apakah ini perbuatan yang benar? Jujur memang ada beberapa tindakan dan kebijakan pemerintah yang tidak kita setujui, tetapi jangan menghina bangsa sendiri… berdemolah yang benar dan dengan cara yang benar.

Seperti misalnya demo 100 hari kinerja pemerintah pada tanggal 28 Januari, memang para pendemo mengklaim bahwa demo berjalan tertib dan tidak anarkis… tapi coba lihat di Makassar, dan mungkin daerah lainnya yang belum sempat tereskpose.. ternyata masih ada tindakan anarkis.  Ini tidak bisa dijadikan pembenaran bahwa 100% demo berjalan baik.

Perlu dilihat bahwa kecenderungan anarkis dalam berdemo sangat tinggi sekali, anarkis bukan berarti menghancurkan fasilitas atau kegiatan brutal saja.  Anarkis seperti dorong2an dengan aparat penertib hingga memancing bentrokan atau pengrusakan pagar juga termasuk anarkis kecil.  Demonstrasi yang bersih dari anarkis adalah demonstrasi yang benar2 menuangkan aspirasi, tidak ada bakar2an, tidak ada mendorong pagar, mendorong aparat, meringsek masuk dengan paksa kedalam kantor, dan tindakan memaksa lainnya.  Apakah benar? Atau ini salah? Coba cari kebenarannya…

Kebebasan lainnya adalah kebebasan pers, memang diakui pers tidak sepenuhnya hanya sebagai media penyampai informasi.  Seringkali pers malah terkesan memihak atau menjatuhkan ataupun bahkan mendukung suatu figur politik atau tindakan politik.  Jelas ini menambah berat proses pemerintahan, karena terkadang informasi yang diberitakan justru bersifat memancing (provokasi)… hmm benar gak ya? Rasa2nya sih… soalnya saya juga rakyat sih..jadi boleh2 saja kan menilai he..

Tapi nggak juga bisa sepenuhnya bebas lho, kayak kasus Prita Mulyasari dia dipidana Cuma gara2 curhat kayak gini di internet… itukan menyampaikan aspirasi tapi bukan demo, gak anarkis lagi.  Weleh2 kok hukum simpang siur ya? Kadang memberatkan pihak tertentu, kadang ada juga pihak tertentu yang bebas menyampaikan aspirasinya.

Pemerintah memang wajib bertindak tegas dengan mengedepankan norma2 dan hak asasi, bila anarkis maka penegak hukum harus tegas… tangkap dan adili yang memprovokasi dan merusak2 fasilitas umum itu karena hanya meresahkan masyarakat.  Sama seperti kita mendidik anak, tidak semua anak kita perlakukan sama… terkadang kita harus dididik dengan lebih keras supaya mau mendengar, kalo dibiarkan bisa melunjak.  Yah, zaman reformasi… atau zaman demostrasi?

Kita semua rakyat, saya rakyat, anda rakyat, membela rakyat atau membela golongan? Berhati2lah jangan mudah terprovokasi, pelajari betul2 kebijakan yang ada, bila tidak sesuai boleh tu di demo… benar atau nggak ya?