Vonis Mati Antasari

Terdakwa mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar dituntut dengan hukuman mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) atas tuduhan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Terdakwa dituntut dengan pidana mati berdasarkan Pasal 55 Ayat 1 (1) jo 55 Ayat 1 (2) jo 340 KUHP,” ungkap JPU Cirus Sinaga saat pembacaan tuntutan, Selasa (19/1/2010) di hadapan Ketua Majelis Hakim Herri Swantoro di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jaksa mengungkapkan beberapa hal yang memberatkan Antasari. Ia dinilai telah mempersulit persidangan dan membuat gaduh. Tindak pidana yang dilakukannya pun dilakukan bersama-sama dan terorganisasi untuk melakukan pembunuhan berencana. Selain itu, terdakwa pun terkesan menggiring isu rekayasa sehingga memengaruhi publik agar citra penegak hukum rusak.

Kemudian, perbuatan terdakwa tersebut dilakukan bersama-sama dengan oknum perwira Polri, hal ini menurunkan citra penegak hukum. Selain itu, sebagai aparat penegak hukum, terdakwa tidak memberikan contoh yang baik.Hal lain yang juga memberatkan, korban adalah pejabat BUMN dan terdakwa menghilangkan kebahagiaan orangtua, anak, dan istri korban. Perbuatan tersebut diyakini menimbulkan penderitaan lahir dan batin bagi orangtua, anak, dan istri korban. Sementara itu, jaksa mengaku tak menemukan pertimbangan yang meringankan bagi Antasari.

Pada bagian lain tuntutannya, JPU tetap berpendapat, pembunuhan bermula dari terkuaknya pertemuan antara Antasari dan seorang caddy golf bernama Rani Juliani di Kamar 803 Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Cirus saat awal pembacaan tuntutan kembali menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Rani yang dilakukan Antasari di dalam kamar.

Setelah pelecehan seksual yang dilakukan Antasari itu terkuak, lanjut Cirus, Nasrudin (suami Rani) melakukan ancaman terhadap Antasari. Nasrudin tewas ditembak di dalam sedan dengan nomor polisi B 191 E seusai bermain golf di Padang Golf Modernland, Tanggerang, pada 14 Maret 2009. kompas.com

Menurut anda siapa yang benar dari berita diatas? Apakah sang jaksa bersama hakim merasa sudah pasti Antasari melakukan kesalahan?  Tidakkah ia ingat posisi dan jabatan Antasari sebelumnya? Ya, dia seorang mantan Ketua KPK yang paling anyar memberantas korupsi beberapa tahun sebelumnya.  Antasari dituduh melakukan konspirasi untuk menjatuhkan penegak hukum, jadi intinya sang pengadilan merasa malu karena dianggap penegak hukum berkonspirasi untuk menjatuhkan Antasari.  Hmm, apa itu benar? Apa perlu Antasari di hipnotis sama Uya Kuya untuk membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah dan memang benar ada pihak yang ingin menjatuhkannya? Who Knows?

Apakah mereka yakin bahwa orang sekelas Antasari Ashar mau melakukan perbuatan yang tidak terpuji tersebut yang bakalan menjatuhkan namanya, martabatnya, jabatannya, keluarganya, statusnya sebagai penegak hukum, dan citranya sebagai pemberantas korupsi yang sedang bersinar-sinarnya???  Apakah tidak ada jalan lain selain membunuh? apakah benar Antasari melakukan ancaman melalui sms? perlu diingat bahwa sms bisa ditulis oleh siapapun dengan nomor hape siapapun.  dan apakah perlu Antasari menuliskan namanya diakhir sms yang dia kirim untuk menyatakan bahwa itu darinya? kalo begitu bukan sms ancaman namanya… sms ancaman jarang sekali menyebutkan namanya, kalo menyebutkan nama berarti pede sekali orang itu… mengapa nggak mengancam terang2an aja gk perlu lewat sms, kan udah jelas.

Apakah jaksa dan hakim yakin bahwa perkataan Rani yang katanya sebagai “saksi kunci” itu dapat dipercaya? Toh dia kan sama saja dengan saksi lainnya yang juga terpojok seperti Williardi Wizard yang terang2an mengatakan bahwa Antasari menjadi target untuk dijatuhkan.  Apa karena gara2 Wiliardi Wizard juga tersangka makanya kesaksiannya tidak kuat?  Kalo Rani juga posisinya jadi tersangka apakah kesaksiannya juga bisa kuat?  Tenyata mencari keadilan itu susah sekali ya…

Dari berita tersebut juga disebutkan bahwa : “Hal lain yang juga memberatkan, korban adalah pejabat BUMN dan terdakwa menghilangkan kebahagiaan orangtua, anak, dan istri korban. Perbuatan tersebut diyakini menimbulkan penderitaan lahir dan batin bagi orangtua, anak, dan istri korban.”  Kalo Antasari dihukum mati, bukannya sama saja? Hukumannya akan menghilangkan kebahagiaan Keluarga Antasari, orang tua, anak, dan istrinya juga.  Jadi siapa yang benar? Lalu bisakah para hakim dan jaksa menjelaskan tentang kasus lain seperti Artalyta Suryani yang mendapatkan fasilitas mewah dalam penjaranya? Berarti emang benar didalam tubuh penegak hukum sendiri ada yang bobrok. Apapun alasannya mafia peradilan sudah jelas2 tercium oleh tim 8 yang mengusut kasus Bibit Samad Rianto… berarti penegak hukum juga punya kesalahan.

Dari cerita ini lagi2 kebenaran masih sulit untuk dikupas… Anda keberatan dengan tulisan ini? Atau mungkin anda merasa benar?