Ada dua partai yang saling kontra dinegara kita, sebenarnya bukan partainya yang kontra tetapi salah satu pimpinannya saja yang saling bertolak belakang.  Bukan saling memusuhi tetapi lebih identik dengan saling  menjatuhkan.  Mana yang benar? Si Biru Tua atau Si Merah? Dua2nya sama2 mengaku membela rakyat, tak tanggung2 rakyat kecil alias wong cilik yang dijadikan pembelaannya.  Kadang disuatu daerah misalnya ditempat saya tinggal, pemilih partai identik dengan etnis atau suku tertentu… suku A kebanyakan/mayoritas adalah pendukung partai Biru Tua, Suku B mayoritas pendukung partai Merah.  Tapi toh pada kenyataannya Presiden tetap dipilih oleh Rakyat dengan tidak melihat partainya.

Coba lihat waktu kampanye, rasanya sangat memalukan sekali masing2 partai mengaku dan menguber2 janjinya dan bahkan saling mengolok2 pemerintahan sebelumnya.  Apakah benar dengan mereka terpilih maka akan memberikan perbedaan yang nyata? Bagaimana bisa Negara ini hidup tentram dan berdemokrasi bila diatas saja sudah saling menjatuhkan lawan politiknya? Berarti memang benar politik itu kejam… Mohon maaf bila anda mendukung salah satu partai tersebut, karena saya yakin anda pasti merasa benar bukan?

Politik itu memang kejam, Soekarno, Soeharto, bahkan Gus Dur juga jatuh karena kekejaman politik.  Politik tidak pernah memihak pada rakyat, politik hanya menunjukkan kekuasan, mereka mengaku menegakkan hukum tetapi justru yang punya duit lebih yang menang.  Pencuri kelas teri hukumannya sama berat dengan koruptor milyaran rupiah, apakah itu arti keadilan? Apakah yakin dengan bergantinya Presiden ini juga akan membawa pada perubahan?

Mana yang benar? Biru Tua atau Merah? Pada suatu acara debat disalah satu televisi Partai Merah menyatakan bahwa partai Biru Tua curang dalam Pemilu, banyak DPT yang ganda atau bahkan banyak rakyat yang tidak bisa memilih karena ada kecurangan dalam DPT.  Siapa yang disalahkan? Tentunya rezim pemerintahan saat itu yang kebetulan orangnya Partai Biru Tua.  Berarti percuma donk dibentuk KPU, kalo toh ternyata bisa dikendalikan sama pemerintahan? Rasanya sulit untuk mengaku kekalahan politik, semua partai yang kalah merasa adanya kecurangan… mereka bersatu untuk menjatuhkan yang menang.  Apakah ini pembelajaran yang baik bagi rakyat..? benarkah? Atau tulisan ini yang salah?

Lalu apakah benar Dana Bank Century yang dituduhkan ada sebagian mengalir ke salah satu tim sukses itu benar? Kita tidak tahu mana yang benar… Kalo memang benar berarti ada permainan Money Politik dalam pemilu tahun lalu.  Apakah mungkin zaman sekarang rakyat kita bisa dibodohin dengan money politik? Mungkin anda berkata “bisa saja”… Kalo zaman orde baru mungkin iya, tetapi masyarakat sekarang tidak bodoh… masih ingat banyak Calon Bupati dan Caleg yang gila gara2 kehabisan modal dan bertumpuk hutang gara2 kalah Pilkada? Jelas mereka menggunakan uang sebagai jalannya alias money politik, toh terbukti tidak mempan dimata rakyat saat ini…karena rakyat kita sudah pintar.. sekarang rata2 minimal sudah lulusan SMA, kalo zaman orde baru wajar saja karena banyak yang SD saja tidak lulus..tentunya pola fikir zaman sekarang jauh lebih maju.  Masihkah anda berkata “bisa saja”..? berarti anda salah satu contoh orang yang mau dijadikan umpan dengan money politik.

Seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan berpolitik, pemilu saat ini dipantau oleh banyak LSM, banyak orang, tim sukses partai, dan bahkan media massa juga ikut2an memantau jalannya proses pemilu.   Belum lagi ditambah data saingan yaitu dengan quick count yang juga inisiatif dari berbagai LSM untuk mengimbangi hasil suara dari KPU.  Lantas kalo celah untuk curang sangat kecil, lalu mengapa masih mencari kesalahan? “Pemilu ini penuh dengan kecurangan” dipandang dari sudut mana? Apakah kamu yakin dan benar2 yakin itu curang? Atau hanyamencari2 kesalahan..? mengapa tidak mencari kebenaran?

Disaat banyaknya masalah dalam negeri berimbas pada pemerintahnya, “turunkan Presiden!!!” salah sedikit diturunkan, salah sedikit diturunkan… apa nggak ada kata2 lain? Atau mungkin mereka yang ngomong begitu ditunggangi salah satu lawan politik? Who Knows? Tulisan ini tidak membela pemerintahan saat ini, tetapi coba fikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk pemilu ulang? Dana kampanye, kertas suara, upah ini upah itu, biaya nagkut ini itu… Mengkritik boleh, tetapi bukan dengan menurunkan pemerintahan.. bukan berarti sudah duduk susah turun, tetapi banyak pertimbangan untuk turun dengan cepat, beda halnya dengan Soeharto yang memang sudah lama duduk.

Intinya kita tidak boleh terlalu fanatic terhadap politik, dan juga tidak boleh tutup mata dengan politik… kritik itu perlu tetapi anarki itu buang jauh2 karena kita dibodohin sama orang2 yang punya kepentingan politik.  Perhatikan pada saat rezim Soeharto lengser, mayoritas pemerintahan yang menggantikannya merupakan orang2 yang dulunya menunggangi reformasi yang melengserkan Soeharto… anda sadar? Tentu saja tidak karena saat itu kita belum melek benar soal politik.. waktu itu demonstrasi masih sangat jarang.

Banyak yang menyatakan atas nama rakyat, membela rakyat… lalu rakyat yang mana? Bukankah pemilu juga yang milihnya rakyat? Berarti secara otomatis presiden yang dipilih sekarang juga dipilih oleh rakyat juga… jadi rakyat yang mana yang dibela? Saya juga rakyat kok…  digonta ganti presiden ini itu saya hidup dengan jalan saya sendiri, dan biasa2 aja… kalo ada kebijakan ini itu saya paling saya mencoba menuruti, yah tapi saya akui memang kalo harga naik pengaruh juga sih, tapi belum perlulah kita main turunkan presiden Cuma gara2 kebijakan itu.. pasti ada alasannya pemerintah melakukannya. Kalo itu strategi politik? Heheh bisa saja… mana yang benar? Makanya kita cari kebenarannya.

Tulisan ini tidak membela partai manapun, ini hanya untuk mencari kebenaran… Anda merasa ini salah? Atau anda merasa anda benar?